Sakit Hati Ditilang,Warga Bali Sebarkan Video Hoax

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Muktiono memperlihatkan barang bukti pelaku penyebar vidoe hoax di Mapolda Sulsel, Minggu (26/11/2017) | FOTO : Illank

Kapolda Sulsel, Irjen Pol Muktiono memperlihatkan barang bukti pelaku penyebar vidoe hoax di Mapolda Sulsel, Minggu (26/11/2017) | FOTO : Illank

RAPORMERAH.co, MAKASSAR – Pelaku penyebar video ujaran kebencian tentang Operasi Zebra 2017 telah diringkus personil Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Sulsel pada Jumat (24/11/2017) lalu di salah satu rumah makan cepat saji Provinsi Bali.

Pelaku yang bernama Iwan Alek Efendi alias Fendi (30) warga Jalan Nusa Kambangan, Kelurahan Dau Purikau, Kecamatan Denpasar Barat, Provinsi Bali.

Menurut pelaku, Iwan Alek Efendi alias Fendin mengatakan, selama ini belum pernah datang dan tidak mengetahui situasi Kota Makassar.

“Saya tidak pernah datang disini (Makassar) dan saya tidak tahu situasi disini akhirnya video itu viral hingga saat ini,” kata pelaku saat diwawancarai usai rilis di Mapolda Sulsel, Minggu (26/11/2017).

Iwan Alek Efendi alias Fendin awalnya menulis Operasi Zebra di dinding facebook lantaran ada momen Operasi Zebra dilaksanakan seluruh Indonesia.

“Saya tulis operasi zebra karena pada awalnya di dinding facebook, ada Operasi Zebra Inilah di Indonesia dan saya tidak pernah mengecek video itu dari mana asalnya jadi saya langsung upload,” ungkapnya.

Pelaku mengaku pernah ditilang saat akan pulang ke rumahnya oleh anggota Polantas namun saat itu surat-surat berkendaraan lengkap tetapi pelaku tiba-tiba memberikan uang Rp.20.000 kepada salah satu anggota Polantas, agar tidak di persulit.

“Saya pernah di tilang sama polisi, dimana saat itu STNK lengkap, SIM dan semua peralatan motor lengkap dan saya unggah ini agar semua bisa tahu bahwa membedakan antara oknum agar teman facebook tahu,” tutupnya.

Akibat dari penyebaran video ujaran kebencian tersebut, pelaku dipersangkakan pasal 28 ayat (2) jo pasal 45A ayat (2) UU RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik dengan ancaman pidana paling lama 6 tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp. 1 Milyar.

Penulis : Illank

Leave a Reply