Rektor UPRI Dituduh Bungkam Daya Kritis 8 Mahasiswa

RAPORMERAH.CO MAKASSAR, Delapan mahasiswa menjadi korban dari keputusan Rektor Dr. Niniek Lantara yg sangat ambisius mempertahankan kekuasaan di kampus, Padahal dia telah diberhentikan oleh Pendiri UVRI Drs. Patri Abdullah pada tanggal 12 Juni 2017.

Mahasiwa mempertanyakan keabsahan pemecatan delapan mahasiwa diterbitkan pd 6 Juli 2017 pada saat Dr. Niniek tidak lagi menjabat sebagai Rektor UVRI/UPRI.

,”Apa yang salah dari kami mahasiswa yang di DO, kami hanya menyampaikan aspirasi dan tidak melakukan tindakan anarkis terhadap institusi.
Apakah demonstrasi terhadap kesewenang wenangan Dr. Niniek Lantara yang didukung Kopertis sudah di anggap seperti tindakan melawan hukum dan mencemarkan nama baik kampus,” tutur salah satu massa Aksi,12 /7/2017

Bukankah kampus secara konvensional adalah laboratorium berdemokrasi, “Kami juga menyampaikan aspirasi sesuai dengan kenyataan dan mengungkap kebenaran tentang konflik internal kampus UVRI/UPRI yg selama ini diabaikan oleh Kopertis dan Menteri Ristek dna Pendidikan Tinggi,” lanjut Hariadi salahsatu demonstran di depan Kampus UPRI

Dr. Niniek Lantara sewaktu menjabat Rektor pernah Melakukan Penggembokan Fakultas,

yang mengakibatkan proses belajar mengajar terganggu dan menimbulkan kegaduhan di Fakultas Teknik. Dia juga memasukan pejabat struktural baru Fakultas Teknik UVRI/UPRI Makassar tanpa sepengetahuan Dekan Teknik UVRI/UPRI.

Pihak Rektor melakukan pelanggaran kode etik akademik yakni menghalangi mahasiswa masuk kampus dengan melibatkan sekelompok preman. Sehingga mahasiswa malakukan kritikan ke rektorat atas ketidak becusannya memimpin universitas.

Tapi sayangnya kritikan yang dilakukan mahasiswa membuat Dr. Niniek Lantara merasa terancam dan membalas dengan cara premanisme yang mematikan daya kritis mahasiswa terhadap kondisi kampus yang carut marut.

Langkah pihak kampus yang didukung Yayasan tandingan yang dikenal dengan nama YPTKD 214 dan diback up oleh Kopertis secara sepihak men drop out 8 mahasiswa tanpa melakukan upaya mediasi dan pendekatan terhadap mahasiswa.

Pihak kampus mempergunakan tangan besi dan semena-mena karena dukungan pihak pihak tertentu. Dengan kekuasaan sebagai Rektor, dia mengeluarkan delapan mahasiwa fakultas teknik UPRI Makassar.

Ke delapan mahasiswa ini mungkin dianggap mengganggu kelanggengan kekuasaan pimpinan dikampus.
Sebagai Rektor, Dr. Niniek tidak memikirkan masa depan mahasiswa dan orang tua mahasiswa yang di DO.

Prilaku premanisme oleh pihak kampus terhadap mahasiwa yg sudah berada pada tahap penyelesaian studi yakni Tahap Akhir Bimbingan Tugas Akhir mencerminkan penganiayaan terhadap dunia akademik.

Efraim salah satu Peserta aksi demo menuturkan,” kampus telah buta kekuasaan dan mempergunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan termasuk mengeluarkan dan mematikan masa depan 8 mahasiswa yang dikeluarkan tanpa melewati proses tahapan Do (Drop out) sesuai dengan prosedur dan statuta universitas,” tutupnya

 

Peliput : Thamrin | Editor : Akbar

Leave a Reply