Oknum Guru di Makassar Tega Setubuhi Siswinya Sebanyak Tiga Kali

Ilustrasi

Ilustrasi

RAPORMERAH.CO, MAKASSAR – Dunia pendidikan tercoreng dengan perbuatan aksi bejat oknum guru terhadap muridnya berinisial Mawar yang masih berusia 17 tahun di SMA Negeri 1 Makassar.

Oknum guru tersebut berinisial E (28) merupakan pengajar dalam mata pelajaran olahraga di SMA Negeri 1 Makassar. Aksi bejat oknum guru itu dilakukan sebanyak tiga kali di dua lokasi berbeda.

Kejadian bejat itu, terjadi ketika oknum guru itu meminta nomor handphone korban dari teman akrab korban, setelah mendapatkan nomor handphone korban lalu oknum guru, E selalu menghubungi korban dan mengajak korban berwisata di Malino, Kabupaten Gowa pada Desember 2018 lalu.

“Walaupun si korban telah tegas menolak untuk pergi jika berdua, namun si pelaku berdali jika mereka tidak pergi berdua tetapi ada sepupu perempuan pelaku ikut, sehingga korban pun mengiyakan ajakan pelaku untuk pergi berwisata,” kata kuasa hukum korban, Ahmad Rianto, Kamis (11/4/2019).

Rianto menyebutkan, bahwa pelaku melakukan tindak asusila terhadap korban sebanyak tiga kali. Dimana dua kali aksi bejat pelaku dilakukan pada akhir bulan Desember 2018 lalu dan terakhir pada bulan Februari 2019 ini.

“Modus aksi bejat pelaku pada bulan Desember 2018 adalah alasan liburan. Modus lainnya adalah pelaku berpura-pura menawarkan diri untuk menemani korban ke salah satu tempat yang dikunjungi oleh korban. Hal ini terjadi di bulan Februari 2019 pelaku melakukan persetubuhan untuk ketiga kalinya,” ungkapnya.

Akibat perbuatan pelaku kata Arianto, pihak keluarga korban pun tak menerima hal tersebut, kemudian melaporkan ke pihak kepolisian nomor laporan B/752/III/RES.1.24/2019/ Reskrim, pada tanggal 30 Maret 2019.

Kuasa hukum korban melihat ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut, agar dapat mengelabui siswanya dengan motif persetubuhan.

“Oknum guru ini telah mencoreng dunia pendidikan kita, dan dapat menghilangkan kepercayaan orang tua terhadap guru hari ini. Bahkan akan berdampak pada psikologi anak,” ujarnya.

Yang mana oknum guru ini sebut Rianto, telah melanggar pasal 81 UU no 17 tahun 2016 tentang Tap Perpu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukum penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

“Harapan kami semoga jangan ada lagi korban yang lainnya, agar dunia pendidikan tidak tercoreng lagi. Olehnya itu, kami mengajak semua pihak untuk ikut serta mengambil peran dalam kasus ini dan ikut mengawasi setiap proses yang akan terjadi untuk adanya keadilan dan kepastian hukum bagi pihak keluarga korban,” tutupnya.

(Ink/Azr)

Leave a Reply