Jelang Pilwali Makassar 2020, Bayang-bayang Sejarah Kotak Kosong Masih Melekat

Ilustrasi / rpm

Ilustrasi / rpm

RAPORMERAH.CO – Sejarah Demokrasi di Kota Anging Mamiri sempat heboh soal kemenangan Kotak Kosong yang mempermalukan koalisi parpol pada pemilihan Wali Kota Makassar di Pertengahan tahun 2018.

Sejarah ini muncul akibat lahirnya kotak kosong setelah Mahkamah Agung (MA) mencoret pasangan Mohammad Ramdhan Danny Pomanto dan Indira Mulyasari (DIAmi) dari panggung pilwali Makassar sehingga pasangan Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) melenggang bebas tanpa lawan.

MA dalam putusannya beranggapan bahwa Danny Pomanto selaku petahana dianggap menggunakan jabatannya untuk melakukan kampanye terselubung dalam program pemerintahannya. Hal ini dianggap oleh majelis hakim dengan ketuanya Agung Supandi dan hakim anggota Yudo Martono Wahyunadi dan Is Sudaryono, merugikan pasangan lainnya.

Namun perjalanan pasangan Appi – Cicu guna meraih kursi Makassar ternyata tidak berjalan mulus, pada 27 Juni 2018 semua orang tersentak, pundi-pundi suara kotak kosong di Makassar mengalir deras dan menekuk koalisi partai yang dikendarai pasangan tersebut.

Berdasarkan hasil rekapan dari KPU Kota Makassar kotak kosong meraup 300.969 suara sedangkan pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) hanya mendapatkan 264.071 suara.

Usai pemungutan suara berlangsung, drama klaim kemenangan sempat terjadi dimana
Munafri Arifudin (Appi) dalam orasinya di hadapan pendukung mengklaim memenangi Pilwalkot Makassar dengan memperoleh suara lebih banyak dari kotak kosong yakni sebesar 52 persen.

“Artinya apa, artinya pada malam hari ini kita memperlihatkan ke seluruh warga kota Makassar bahwa Makassar sudah punya Wali Kota dan Wakil Walikota,” kata Appi saat itu.Dikutip dari Detik.com

Sejarah Kemenangan kotak kosong ini juga membuat riuh politik di Tanah Air. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengistilahkannya sebagai bentuk ‘hukuman’ masyarakat kepada elite. Dia menyebut demokrasi adalah suara rakyat. Fahri meminta elite peka terhada kemauan rakyat.

Tidak hanya itu, Gerindra dan Jubir Wapres Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah pun terlibat saling sindir satu sama lain. Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono menghubungkan kemenangan kotak kosong dengan JK yang memiliki hubungan dekat dengan Appi, Cawawali yang kalah melawan kotak kosong. 

“Kotak kosong ini gambaran tentang perlawanan rakyat. Karena yang dilawan adalah orang yang punya kekerabatan dengan Pak Jusuf Kalla,” kata Ferry dalam diskusi ‘Pilkada, Kotak Kosong, dan Pilpres’ di Jakarta.

Kemenangan Kotak Kosong menjadi sejarah penting bagi Demokrasi di Kota Makassar dan harus menjadi pelajaran penting dalam perjalanan demokrasi di Indonesia sebab bisa diartikan pula dari fenomena menangnya kotak kosong tersebut merupakan bentuk pengadilan rakyat terhadap calon pemimpin yang tidak direstui.

Diketahui dari hasil kemenangan Kotak Kosong Pada pilwali 2018 yang lalu, maka kota Makassar kembali akan melakukan pemilihan walikota ulang pada 2019 tetapi karena adanya pemilu presiden dan legislatif, maka Pilkada serentak tersebut akan digelar tahun ini 2020.

Hal tersebut Sesuai dengan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 13 Tahun 2018 tentang pemilihan dengan satu pasangan calon disebutkan bahwa ketika pasangan calon tidak mencapai perolehan suara lebih dari 50 persen maka dilakukan pemilihan ulang.

(Acm/Azr)

Leave a Reply