Jalani Sidang Perdana, Pembunuh Taruna ATKP Makassar Didakwa Pasal Berlapis

Terdakwa perkara penganiayaan taruna ATKP Makassar saat berada di ruang sidang sambil kepala menunduk dihadapan majelis hakim. (Foto/illank)

Terdakwa perkara penganiayaan taruna ATKP Makassar saat berada di ruang sidang sambil kepala menunduk dihadapan majelis hakim. (Foto/illank)

RAPORMERAH.CO, MAKASSAR – Sidang perdana kematian taruna Akademik Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra digelar di Pengadilan Negeri Makassar, Senin (24/6/2019).

Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan terdakwa Muhammad Rusdi alias Rusdi dihadapan majelis hakim yang dipimpin Suratno dan dibantu dua hakim anggota dengan agenda sidang pembacaan dakwaan.

Jaksa Penuntut Umum, Tabrani dalam dakwaannya menyebutkan, bahwa terdakwa Muhammad Rusdi alias Rusdi didakwa dalam dakwaan primer melakukan penganiayaan terhadap korban yang merupakan juniornya di Kampus ATKP Makassar pada hari Minggu (3/2) sekitar pukul 21.45 WITA di lokasi gedung barak Bravo 6 dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain.

Tabrani juga menyebutkan, bahwa berdasarkan alat bukti surat berupa, Visum Et Repertum dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Nomor : VeR/022/III/2019/Forensik tanggal 08 Maret 2019 yang hasil pemeriksaannya terhadap korban Aldama Putra Pongkala menyimpulkan kematian korban akibat gagal pernafasan.

“Hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa penyebab kematian korban ialah kegagalan pernafasan yang diakibatkan oleh terganggunya fungsi organ paru-paru (terjadi edema paru), oleh karena adanya kerusakan pada organ paru yang akut (Acute Lung Injury) disebabkan adanya kekerasan tumpul pada bagian dada,” ungkap Tabrani dihadapan majelis hakim.

Terdakwa selama menjalani sidang di ruangan Prof Bagir Manang hanya bisa tertunduk malu dan pasrah dihadapan majelis hakim.

“Terdakwa didakwa dalam pasal 338 Subsidaer 354 ayat (2) Subsidaer 351 ayat 3 KUHPidana,” kata Tabrani.

Usai mendengarkan dakwaan jaksa, terdakwa yang didampingi dua orang penasehat hukumnya sepakat tidak mengajukan eksepsi atau nota penolakan dakwaan yang dibacakan JPU.

Kemudian, ketua majelis hakim, Suratno setelah mendengarkan dakwaan jaksa lalu menunda sidang hingga Senin pekan depan.

“Sidang dilanjutkan pada Senin, 1 Juli pekan depan dengan agenda sidang mendengarkan keterangan saksi-saksi,” kata ketua majelis hakim.

(Mir/Azr)

Leave a Reply