Dua Gadis Diperkerjakan di Kafe Remang-remang Diamankan Polisi

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko saat ditemui di Mapolrestabes Makassar | foto : illank

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko saat ditemui di Mapolrestabes Makassar | foto : illank

RAPORMERAH.CO – Personel Unit PPA Polrestabes Makassar bersama Unit PPA mengamankan dua perempuan yang masih berusia belasan diduga menjadi korban penjualan manusia.

Kedua anak dibawa umur ini masing-masing berinisial, NA umur 16 tahun dan W alias U umur 17 tahun. Dan pihak kepolisian juga mengamankan seorang perempuan berinisial H alias Bondeng umur 23 tahun.

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, AKBP Indratmoko menerangkan, bahwa kasus terungkap setelah adanya laporan dari salah satu keluarga korban yang melapor ke pihak kepolisian, sehingga dari laporan itu dilakukan penyelidikan.

Dimana NA pada tanggal 29 Agustus lalu, berpamitan kepada ibunya untuk ke rumah neneknya di Kabupaten Sinjai. Namun, seminggu kemudian NA diketahui tidak berada di Kabupaten Sinjai, tetapi berada di Kota Pare-pare sehingga ibunya menghubungi NA dan menyuruhnya pulang.

“Jadi awalnya minta izin ke Sinjai dengan maksud ke rumah neneknya untuk jalan-jalan. NA bersama sepupunya W alias U bekerja sebagai pelayan di warung remang-remang di daerah Pa’de, Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang, Kota Pare-pare. Keduanya berhasil kita amankan bersama dengan seorang perempuan diduga teman korban H alias Bondenk,” kata Indratmoko, Senin (7/10/2019).

Berdasarkan keterangan H alias Bondeng mengakui pada saat itu dirinya mengajak kedua korban untuk bekerja di kafe remang-remang sebagai pelayan. Dengan upah pertutup botol minuman keras jenis bir sebesar Rp 10 ribu dan ballo permoknya Rp 5 ribu yang dibayarkan setiap minggunya.

“Sebelum mereka berangkat ke Pare-pare, H ini memberikan uang masing-masing Rp 300 ribu sebagai panjar. Kemudian setelah mereka di Pare-pare dijemput oleh seorang perempuan bernama Bunda Eva lalu dibawa ke sebuah rumah kost selama tiga minggu dan bekerja melayani tamu,” bebernya.

Kemudian lanjut Indratmoko, perempuan yang bernama Bunda Eva ini memperkenalkan kepada korban yang bertugas untuk mengantar jemput korban dari tempat kos ke warung mereka bekerja.

“Tetapi menurut pengakuan korban bahwa pria tersebut telah melakukan hubungan badan dengan dirinya yang dianggap sebagai pacarnya,” tambahnya.

Kendati demikian, kata Indratmoko pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak P2TP2A untuk dilakukan pendampingan baik hukum maupun konseling.

“Kita juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 300 ribu dari tangan W alias U, diduga hasil upah bekerja di kafe remang-remang tersebut. Dan handphone serta kunci kamar kost dari tangan H alias Bondeng,” pungkasnya.

(Ink/Azr)

Leave a Reply