Dewan Pers : Wartawan Tidak Sekedar Punya Kartu Pers

Istimewa

Istimewa

RAPORMERAH.CO | Dunia jurnalistik adalah dunia yang penuh tantangan. Seorang jurnalis dituntut aktif mencari fakta suatu kejadian untuk disampaikan secara utuh ke masyarakat. Jurnalis harus peka akan kejadian disekitarnya dan mengikuti perkembangan isu yang sedang hangat di masyarakat.

Namun tidak bisa dipungkiri kenyataan yang ada saat ini banyak ditemukan kemunculan oknum oknum yang tiba tiba menyebut dirinya sebagai wartawan dan dibekali kartu PERS yang mereka anggap sebagai “kartu sakti” melakukan tugas kewartawanan diluar jalur yang seharusnya dilakukan seorang wartawan professional.

Dalam Seminar Nasional HAM, Kemerdekaan Pers Perlindungan dan Keselamatan Jurnalis di Indonesia, Selasa 10 Desember 2019 yang lalu, Anggota Dewan Pers, Agung Dharmajaya mengatakan, fenomena saat ini media sangat muda memberikan kartu pers atau id card kepada seseorang setelah itu yang mendapatkan kartu langsung mengaku wartawan.

Namun lebih miris lagi ada yang mengaku wartawan tetapi menulis di facebook.
“Saya ke daerah, tidak disebutkan daerahnya. Lebih tua dari saya ngaku wartawan, nulis lumayan ternyata setelah saya tanya beritanya tayang dimana, rupanya di facebook si bapak. Saya mau melawan takut kualat. Tapi begitu fenomena saat ini,” Singkatnya.

Diketahui sejak era reformasi menjadi seorang wartawan sangat menggiurkan. Banyak yang mengatakan profesi wartawan memiliki akses yang luas dengan siapa saja dan ada juga yang mengartikannya wartawan adalah manusia bebas “Man of Freedom”

Padahal seseorang yang bisa dikatakan wartawan apabila terus menulis secara berkesinambungan selama enam bulan. Tidak hanya itu, wartawan juga harus paham aturan jurnalistik dan bisa menulis dengan baik dan benar. Tidak cukup dengan kartu pers saja kemudian membanggakan kesana kesini lalu mengatakan saya wartawan.

(Azr)

Leave a Reply