Aksi Razia Buku Diduga Berbau Komunis Menuai Kritikan

RAPORMERAH.CO,MAKASSAR – Razia buku yang dilakukan oleh beberapa pemuda di salah satu toko buku gramedia di makassar menuai kritikan dari kalangan para aktivis kota makassar karena dianggap sebagai tindakan primitif dan prematur.

Pasalnya tindakan tersebut, merupakan tindakan yang dilakukan tanpa mengetahui apa sebenarnya yang ditolak dari keberadaan buku-buku yang dianggap oleh beberapa orang pemuda, menyesatkan masyarakat kota makassar.

Razia Buku ini menimbulkan berbagai macam reaksi dan tanggapan dalam masyarakat. Salah satunya ialah Pengurus LKBHMI Gowa Raya, Fajar Nur. Mengatakan, saya tidak tahu persis apa yang menjadi dasar pemikirannya sehingga mereka yang terlibat Itu menolak keberadaan buku-buku bacaan yang menambah wawasan kita.

Lanjut nya, Kalau razia buku tersebut dilakukan hanya dengan berasumsi bahwa buku-buku (Marxisme, Leninisme dan sebagainya) semacam itu menyebarkan paham radikalisme sehingga berdampak pada Hilangnya keakraban antar warga negara atau tersesatnya warga negara karena mengkonsumsi buku bacaan tersebut. artinya, Presiden kita yang pertama (Ir. Soekarno) dan keempat (Abdurrahman Wahid) termasuk yang menyebarkan paham paham radikalisme.

Soekarno misalnya, menulis buku tentang dibawah bendera revolusi yang pada intinya, “pandangan dan pemikiran Soekarno sangat terpengaruh oleh paham Marxisme, terdorong rasa keprihatinannya akan nasib sebagian besar rakyat Indonesia yang adalah kaum proletar dan buruh jajahan asing dan kaum kapitalis.

Sedangkan, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) justru Presiden yang dianggap paling kontroversial karena mengusulkan pencabutan TAP MPRS No. XXV/1966 mengenai pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pelarangan penyebaran ajaran Marxisme/Leninisme serta komunisme di Indonesia. Ungkap Fajar Nur.

Terakhir, Saya sependapat dengan pemikiran Roy Murtadho dalam akhir tulisanya tentang “Iqra: Perintah Membaca dan Phobia Komunisme”, Harusnya kita sebaga warga negara melihat pemikiran apapun, demikian juga paham paham ataupun ideologi, sebagai hasil eksperimen pemikiran dan praktik politik. pertama-tama haruslah diletakkan secara objektif sebagai pengetahuan yang wajib dipelajari sebelum menerima atau menolaknya.

Yang mengecewakan adalah ketika ada anjuran untuk menjauhi pemikiran tertentu, bahkan memusuhi pemikiran tertentu, tanpa mereka tahu apa isi dan kandungan yang mereka musuhi. Tanpa aktivitas Ilmiah maka warga negara hanya sekedar kumpulan masyarakat impulsif dan histeria. Tutup Fajar Nur

Kontroversi Razia buku yang dilakukan oleh beberapa orang pemuda tersebut, menjadi viral karena adanya video yang beredar di sosmed (Whatsapp) sehingga menimbulkan reaksi dan kecaman dari berbagai kalangan masyarakat khususnya para aktivis.

(Ink/Azr)

Leave a Reply